Facebook Twitter In
Flag

MESSAGE FROM BOD

 

Perekonomian Indonesia

Meskipun daya beli konsumen sepanjang tahun 2017 menunjukkan perlambatan, namun perekonomian Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 tercatat sebesar 5,07% atau tumbuh tipis dari tahun sebelumnya yang sebesar 5,03%. Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga sebagai komponen terbesar pertumbuhan ekonomi di tahun 2017 tercatat lebih rendah dibanding tahun 2016 yaitu 4,95% dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar 5,01%. Penurunan tersebut patut diwaspadai, terutama oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri barang konsumsi, termasuk Perseroan.

Sementara itu, menurut data dari Bank Indonesia, tingkat inflasi di tahun 2017 tercatat sebesar 3,61%. Angka ini menunjukkan bahwa inflasi tahun 2017 terkendali pada level yang rendah dan berada pada sasaran inflasi 4±1%. Hal tersebut berarti inflasi dalam tiga tahun berturut-turut secara konsisten dapat tetap dikendalikan dalam kisaran sasaran inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah.

 

Prospek Usaha

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih positif di tahun 2018 yang didorong oleh menguatnya permintaan domestik sejalan dengan peningkatan investasi, konsumsi rumah tangga, dan stimulus fiskal. Kinerja ekspor diperkirakan tetap tumbuh positif seiring dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi global dan harga komoditas yang masih tinggi. Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia tahun 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,1%-5,5%. (Sumber : Bank Indonesia). Hal tersebut sejalan dengan proyeksi Bank Dunia dimana ekonomi Indonesia diprediksi akan tumbuh 5,3% pada 2018. Perkiraan pertumbuhan ekonomi itu akan ditopang dari konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh positif, investasi, dan ekspor. Dengan demikian, diharapkan tingkat kepercayaan konsumen di masa yang akan datang akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, meningkatnya jumlah penduduk usia produktif di Indonesia diharapkan dapat memperkuat konsumsi dalam negeri, khususnya konsumsi produk kosmetik dan personal care. Menurut data BPS, populasi penduduk Indonesia saat ini lebih didominasi oleh kelompok usia produktif yakni antara 15-64 tahun yang mencapai 67% dibanding total populasi. Jumlah perempuan usia sangat produktif (15-49 tahun) mencapai 69,4 juta jiwa, sementara laki-laki  mencapai 70,4 juta jiwa. Hal tersebut menunjukkan potensi pasar yang tinggi baik bagi produk personal care pria maupun wanita.

Perseroan memiliki segmen usaha utama yaitu kosmetika. Informasi mengenai produk kosmetika yang digunakan untuk tujuan pelaporan manajemen dalam laporan keuangan terbagi menjadi produk perawatan rambut, perawatan kulit & rias, wangi-wangian, dan lain-lain.

Di tahun 2017, pertumbuhan penjualan terbesar dicatatkan oleh produk perawatan rambut yang tumbuh sebesar 18,4% dibanding tahun 2016 yaitu dari Rp1,05 triliun menjadi Rp 1,25 triliun. Pertumbuhan terbesar kedua dicatatkan oleh produk perawatan kulit dan rias yang tumbuh sebesar 11,8% yaitu dari Rp 811,19 miliar di tahun 2016 menjadi Rp 906,98 miliar.

Aset

Aset lancar pada akhir tahun 2017 tercatat sebesar Rp 1,28 triliun, meningkat 8,7% dari Rp 1,17 triliun di tahun 2016.

Liabilitas

Pada akhir tahun 2017 liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp 259,81 miliar, meningkat 17,8% dari Rp 220,58 miliar pada akhir tahun 2016.

Ekuitas

Pada akhir tahun 2017 jumlah ekuitas tercatat sebesar Rp 1,86 triliun, meningkat 4,2% dari Rp 1,78 triliun di tahun 2016.

Penjualan, Beban, Laba, Pendapatan Komprehensif Lain dan Total Laba Komprehensif

Penjualan tahun 2017 tercatat sebesar Rp 2,71 triliun, tumbuh 7,1% dibandingkan tahun 2016. Rasio beban pokok penjualan terhadap penjualan tercatat 62,8%, naik dari 62,6% di tahun 2016. Di sisi lain, rasio laba bersih terhadap penjualan adalah sebesar 6,6%. Laba bersih tercatat sebesar Rp 179,13 miliar, meningkat 10,5% dibandingkan tahun 2016. Penghasilan komprehensif lain diperoleh dari kerugian aktuarial atas kewajiban manfaat pasti dan laba/rugi nilai wajar aset keuangan tersedia untuk dijual. Dengan demikian, total laba komprehensif tahun 2017 tercatat sebesar Rp 157,61miliar dan laba per saham menjadi Rp 891/saham.

Arus Kas

Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi pada tahun buku 2017 tercatat sebesar Rp 363,71miliar, naik 37,7% dari Rp 264,19 miliar di tahun buku 2016.

Kemampuan Membayar Utang & Tingkat Kolektabilitas Piutang

Kemampuan membayar utang dihitung melalui perhitungan rasio utang Debt to Equity Ratio dengan membagi jumlah liabilitas dengan jumlah ekuitas yaitu Rp 503,48 miliar /Rp 1,86 triliun dan diperoleh angka rasio 27,1%. Hasil perhitungan menunjukan secara umum Perseroan mampu membayar utangnya 3,7 kali lipat atas ekuitas yang dimiliki oleh Perseroan. Rata-rata masa pembayaran utang di tahun 2017 adalah 20 hari.

Ikatan Material untuk Investasi Barang Modal

Tidak ada ikatan material untuk investasi barang modal di tahun 2017.

Investasi Barang Modal

Investasi barang modal di tahun 2017 dilakukan pada Mesin dan Peralatan, Bangunan dan Pengembangan, Kendaraan Bermotor dan yang lainnya. Tujuan investasi tersebut adalah untuk mendukung peningkatan kapasitas dan optimalisasi produksi. Nilai investasi barang modal selama tahun 2017 adalah sebesar Rp 138,15 miliar.

Fakta Material yang Terjadi setelah Tanggal Laporan Akuntan

Tidak ada fakta material yang terjadi setelah tanggal laporan akuntan.

Penjualan Domestik

Sepanjang tahun 2017 kinerja penjualan domestik masih mencatatkan pertumbuhan double digit di tengah daya beli konsumen yang cenderung stagnan. Hal tersebut berkat beberapa strategi yang diterapkan Perseroan sepanjang tahun 2017 antara lain dengan berkonsentrasi pada produk-produk fast moving mulai dari perencanaan produksi, persediaan, promosi hingga proses distribusi agar produk selalu tersedia di pasar. Penjualan domestik pada tahun 2017 tercatat sebesar Rp 2,07 triliun atau tumbuh 10,1% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

 

Penjulan Internasional

Di tahun 2017, total penjualan ekspor Perseroan sebesar Rp 640,44 miliar atau turun 1,5 % dibandingkan dengan tahun 2016. Penurunan penjualan ini sebagian besar disebabkan oleh penurunan penjualan di wilayah Afrika dan Timur Tengah. Selain gejolak politik, sulitnya regulasi dan tingginya persaingan dari produk-produk murah dan produk-produk palsu sangat mudah ditemukan di kedua pasar tersebut.

Sementara itu, jika dilihat berdasarkan kategori, kompetisi yang ketat di kategori hairstyling sebagai kategori unggulan Perseroan dengan produk-produk hair gel dan hair wax juga dihadapi di tahun 2017. Pergeseran tren rambut pria ke arah penggunaan produk pomade sangat jelas terlihat. Penjualan ekspor ke Malaysia tahun 2017 mencatatkan pertumbuhan double digit yang signifikan didukung oleh pertumbuhan GATSBY Styling Pomade yang mulai diekspor ke Malaysia pada bulan Desember 2016 serta didukung juga oleh penjualan PIXY di Malaysia. Hal ini juga yang mendorong Perseroan meluaskan penjualan ekspor produk GATSBY Styling Pomade, seperti ke India dan kawasan Indochina.

Kedepannya, Perseroan akan lebih agresif dalam menawarkan produk-produk yang telah diterima dengan baik di Indonesia maupun di beberapa negara tujuan ekspor, dan terus melakukan langkah-langkah efisiensi di internal untuk dapat menawarkan produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen di negara-negara tujuan ekspor.

 

PENGEMBANGAN PRODUK BARU

Perseroan senantiasa berupaya untuk menciptakan produk yang dapat memberikan inspirasi dan kesan bagi kehidupan konsumen yang dinamis. Oleh karenanya, sepanjang tahun 2017 Perseroan telah meluncurkan sejumlah produk baru untuk beberapa kategori, mulai dari hairstyling, decorative makeup, hingga skin care. Adapun total produk baru dan renewal yang telah diluncurkan Perseroan sepanjang tahun 2017 sebanyak 146 SKU.

Kebijakan dividen Perseroan setiap tahunnya ditinjau dan disesuaikan dengan kondisi keuangan dan rencana pengembangan Perseroan. Penentuan nilai dividen dilakukan dengan mempertimbangkan laba bersih, kondisi keuangan Perseroan, serta rencana investasi dan pengembangan yang akan dilakukan Perseroan. Kebijakan dividen Perseroan untuk dividen tahun buku 2017 adalah membagikan dividensebesar Rp 410 per saham dengan pay out ratio 48,3% dari laba bersih. Rasio ini lebih kecil dibandingkan dengan rasio tahun 2016 yang sebesar 50,9% dari laba bersih.

Perseroan akan mengusulkan pembagian dividen sesuai kebijakan tersebut pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Tahun Buku 2017.Nilai dividen selama 2 tahun terakhir:

TAHUN BUKU TANGGAL PEMBAYARAN DIVIDEN DIVIDEN PER SAHAM (RP) JUMLAH SAHAM YANG DIKELUARKAN NILAI DIVIDEN (RP JUTA) LABA BERSIH (RP JUTA) DIVIDEN TERHADAP LABA BERSIH SETELAH PAJAK (%)
 
2015 24 Mei 2016 410 201.066.667 82.437 544.474 15,1
2016 24 Mei 2017

410

201.066.667 82.437 162.060 50,9
2017 22 Mei 2018 410 201.066.667 82.437 179.126 46,0

 

Tahun 2018 merupakan tahun kedua dari periode Rencana Manajemen Menengah 3-Tahun yang ke-5 (MID-5). Dalam periode ini, Perseroan menetapkan “Challenge, Change, Innovation” sebagai tema dari strategi bisnis Perseroan hingga tahun 2019. “Challenge, Change, Innovation” merupakan salah satu dari 5 (lima) prinsip Mandom Group. Melaui tema ini Perseroan harus senantiasa siap menghadapi tantangan demi perubahan dan inovasi yang akan mendukung keberlangsungan hidup Perseroan dan orang-orang didalamnya di masa depan dengan target pertumbuhan penjualan double digit setiap tahunnya.

Sementara itu, dari segi permodalan Perseroan akan tetap menggunakan kas internal dalam melakukan pengembangan bisnis. Dalam hal kebijakan dividen, Perseroan akan menyesuaikan kebijakan dividen dengan kondisi keuangan dan juga rencana pengembangan bisnis Perseroan.